Senin, 12 Desember 2011

LAPORAN MOLUSCA


I.   PENDAHULUAN
1.1.   Latar  Belakang
         Indonesia merupakan negara tropis dengan perairan yang sangat luas yang memiliki organisme dengan keanekaragaman yang cukup tinggi. Salah satu organisme yang banyak dijumpai dan dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari merupakan dari Filum  Molusca.
Molusca merupakan hewan yang mempunyai bentuk morfologi tubuh yang lunak. Hidup  sejak periode Cambrian, terdapat lebih dari 100.000 spesies hidup dan 35.000 spesies fosil kebanyakan dijumpai di laut dangkal dan adapula yang hidup pada kedalaman sampai 7000 meter beberapa lainnya mempunyai habitat air payau, air tawar dan daratan (Aslan dkk.,  2010).
Kata  Molusca  berasal  dari  bahasa  latin  mollis  yang berarti lunak. Oleh sebab itu, Molusca disebut hewan bertubuh lunak.  Anggota dari filum Molusca mempunyai bentuk tubuh yang sangat beranekaragam, dari bentuk silindris seperti cacing dan tidak mempunyai  kaki  sampai bentuk  hampir bulat tanpa kepala dan tertutup dua keping cangkang besar .  Oleh  sebab  itu  berdasarkan bentuk  tubuh  dan  jumlah  cangkang, serta beberapa sifat lainnya Phylum Mollusca dibagi menjadi 8 kelas yaitu Chaetodermomorpha, Neomeniomorpha, Monoplacophora, Polyplacophora,  Gastropoda,  Pelecypoda, Scaphopoda dan Cephalopoda.  Namun yang akan dari 8 kelas tersebut hanya 3 kelas yang mempunyai nilai  ekonomis penting yaitu Gastropoda, Pelecypoda dan Cephalopoda.  Ketiga kelas tersebut memberikan manfaat bagi manusia yaitu dapat digunakan sebagai bahan makanan seperti pada Burungo (Telescopium telescopium), Kalandue (Polymesoda sp.), Gurita (Octopus sp.), dan Cumi-cumi (Loligo sp.) (Aslan dkk.,  2010).
Di daerah perairan laut yang sangat luas dan merupakan negara tropis, memiliki organisme dengan keanekaragaman yang cukup tinggi dan merupakan sumber protein hewani yang dapat dikonsumsi.  Dibandingkan kelompok hewan lain, mollusca merupakan kelompok hewan yang dapat bertahan hidup pada berbagai habitat yang berbeda-beda.  Umumnya mollusca senantiasa hidup serta berinteraksi dengan lingkungan tempat di mana meraka berada.  Sebagian di antaranya mendiami daerah ekstrim yaitu daerah pasang surut (Nontji, 2005).
Filum molusca memiliki jenis-jenis tertentu, ada yang tidak memiliki atau mempunyai cangkang sama sekali (mollusca telanjang).  Pada dasarnya sistem organ yang dimiliki oleh hewan mollusca ini seperti sistem pencernaan, peredaran darah, pernapasan, saraf, otot dan organ reproduksi, tapi pada bagian dalam tubuhnya terdapat organ-organ dalam yang dapatdikatakan lengkap.  Pada organ-organ dalam tersebut dibungkus oleh mantel yang terbuat dari suatu jaringan khusus dan pada umumnya dilengkapi dengan kele snjar-kelenjar yang dapat
Berdasarkan latar belakang di atas maka untuk lebih memperjelas pengamatan pada phylum mollusca, diadakannya praktikum mengenai phylum mollusca tersebut.
        Melihat manfaat dari organisme ini dalam perekonomian perikanan, maka perlu diadakan praktikum guna mengetahui dan menambah wawasan  para praktikan mengenai bentuk morfologi dan anatomi dari hewan-hewan yang termasuk dalam filum Molusca.
1.2.   Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk  mengetahui bentuk morfologi dan anatomi, serta bagian-bagian Molusca serta dapat membedakan filum yang termasuk dalam kelas Gastropoda dan Pelecypoda
Kegunaan dari  praktikum ini adalah untuk dapat melihat langsung secara morfologi dan anatomi, sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Molusca.















II.   TINJAUAN  PUSTAKA
2.1.   Klasifikasi
Gastropoda merupakan kelas Molusca yang terbesar dan populer. Ada sekitar 50.000 jenis/spesies Gastropoda yang masih hidup dan 15.000 jenis yang telah menjadi fosil. Karena banyaknya jenis Gastropoda, maka hewan ini mudah ditemukan. Sebagian besar Gastropoda mempunyai cangkok (rumah) dan berbentuk kerucut terpilin (spiral). Bentuk tubuhnya sesuai dengan bentuk cangkok. Padahal waktu larva, bentuk tubuhnya simetri bilateral. Namun ada pula Gastropoda yang tidak memiliki cangkok, sehingga sering disebut siput telanjang (vaginula). Hewan ini terdapat di laut dan ada pula yang hidup di darat. Gaster artinya perut, dan podos artinya kaki. Jadi Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak, berjalan dengan perut yang dalam hal ini disebut kaki. Gerakan Gastropoda disebabkan oleh kontraksi-kontraksi otot seperti gelombang, dimulai dari belakang menjalar ke depan. Pada waktu bergerak, kaki bagian depan memiliki kelenjar untuk menghasilkan lendir yang berfungsi untuk mempermudah berjalan, sehingga jalannya meninggalkan bekas. Hewan ini dapat bergerak secara mengagumkan, yaitu memanjat ke pohon tinggi atau memanjat ke bagian pisau cukur tanpa teriris.
Klasifikasi Burungo (Telescopium telescopium) adalah sebagai berikut:
Filum       :   Mollusca
     Class     :   Gastropoda
          Ordo    :   Mesogastropoda
               Famili   :   Potamididae
                   Genus   :   Telescopium
                           Spesies   :   Telescopium telescopium
                Gambar 8. Burungo (Telescopium telescopium)
Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Lengan gurita merupakan struktur hidrostat muskuler yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar. Tidak seperti hewan Cephalopoda lainnya, sebagian besar gurita dari subordo Incirrata mempunyai tubuh yang terdiri dari otot dan tanpa tulang rangka dalam. Gurita tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar seperti halnya  Nautilus dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sotong dan cumi-cumi. Paruh adalah bagian terkeras dari tubuh gurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil.Tubuh yang sangat fleksibel memungkinkan gurita untuk menyelipkan diri pada celah batuan yang sangat sempit di dasar laut, terutama sewaktu melarikan diri dari ikan pemangsa seperti belut laut Moray. Gurita yang kurang dikenal orang dari subordo Cirrata memiliki dua buah sirip dan cangkang dalam sehingga kemampuan untuk menyelip ke dalam ruangan sempit menjadi berkurang.
Spesies moluska juga dapat menyebabkanbahaya atau hama dalam kegiatan manusia. Gigitan gurita bercincin biru seringberakibatfatal, gigitandariApollyon Gurita menyebabkan peradangan yang dapat bertahan selama lebih dari sebulan.

Klasifikasi Gurita (Octopus sp) adalah sebagai berikut:
Filum       :   Mollusca
     Class     :   Cephalopoda
         Ordo    :   Octopoda
               Famili  :  Octopodidae
                    Genus   :   Octopus
                           Spesies  :   Octopus sp.

Gambar 9.  Gurita (Octopus sp.)
Pelecypoda kelas bivalvia Kalandue (Polymesoda sp.) Bentuk tubuh oval, dengan cangkang berupa lempengan berjumlah delapan buah, terletak di sisi dorsal. Kelas Pelecypoda dikenal juga atau disebut Bivalvia, karena memiliki dua buahcangkang yang setangkup dengan berbagai bentuk dan ukuran (Sugiri,  2006).
Secara anatomis Mollusca merupakanmakanan yang baik bagi manusia modern saat ini. Namun dalam kondisi tertentu ada risiko keracunan makanan dari racun yang terdapatpada moluska, dan banyak negara memiliki peraturan yang bertujuan untuk meminimalkan risiko keracunan tersebut.

Kalsifikasi  Kalandue (Polymesoda sp.) menurut Brotowijoyo (2004) dalam Praweda (2000) adalah sebagai berikut.
Filum       :   Mollusca
     Class    :   Pelecypoda
         Ordo    :   Arcoida
               Family    :   Arcoidaceae
                    Genus   :   Polymesoda
                           Spesies   :   Polymesoda sp.
Gambar 10. Kalandue (Polymesoda sp.)
Cumi-cumi, sotong dan gurita adalah contoh hewan kelas Cephalopoda. Leher dan badan. Di depan kepala terdapat mata yang besar dan tidak berkelopak. Mata ini berfungsi sebagai alat untuk melihat. Masih di dekat kepala terdapat sifon atau corong berotot yang berfungsi sebagai kemudi. Jika ia ingin bergerak ke belakang, sifon akan menyempurnakan air ke arah depan, sehingga tubuhnya bertolak ke belakang. Sedangkan gerakan maju ke depan menggunakan sirip dan tentakelnya. 
Moluska juga berasal dari bahasa prancis yaitu mollusque, bahasa latin molluscus yang berarti lembut. Molluscus itu sendiri merupakan adaptasi dari bahasa Aristoteles yang berarti "hal-hal lunak", yang diterapkan untuk cumi-cumi. Penelitian ilmiah moluska dikenal sebagai Malakologi.
Moluska sangat beragam di daerah tropis dan subtropis tetapi dapat ditemukan di semua lintang. Sekitar 80% dari semua spesies moluska gastropoda dikenal adalah Cephalopoda seperti cumi-cumi, sotong dan gurita adalah salah satu neurologis paling canggih dari semua invertebrata. Cumi-cumi raksasa, yang sampai saat ini belum diamati hidup dalam bentuk dewasanya adalah salah satu invertebrata terbesar. Namun spesimen baru-baru ini tertangkap cumi-cumi kolosal, sepanjang10 meter (33 kaki) dan berat 500 kilogram (1.100 lb).


Klasifikasi  Cumi-cumi (Loligo sp.) menurut  Anonim (2010) adalah sebagai berukut:
Filum       :   Mollusca
     Class     :   Cephalopoda
          Ordo    :   Decapod
            Famili  :  Teuthoidaeceae
               Genus   :  Loligo
                    Spesies   :   Loligo sp.

octopus2
Gambar 11.  Cumi-cumi (Loligo sp.)
2.2.   Morfologi dan Anatomi
Organ internal pada Gastropoda biasanya bersifat simetris yang terletak di dalam cangkang terpilih. Arah putaran cangkang kebanyakan ke arah kanan (dekstral) dan umumnya mempunyai operculum. Tipe cangkang berputar ke arah kiri (sinistril) kebanyakan di jumpai pada jenis-jenis yang hidup di darat. Mantel berupa membran tipis yang menekskresikan bahan cangkang.  Bentuk tubuhnya sesuai dengan bentuk cangkok. Padahal waktu larva, bentuk tubuhnya simetri bilateral. Namun ada pula Gastropoda yang tidak memiliki cangkok, sehingga sering disebut siput telanjang (vaginula) (Aslan, dkk., 2006)
gbr30
Gambar  12. Anatomi Kalandue (Polymesoda sp.)
          Pelecypoda kelas bivalvia Kalandue (Polymesoda sp.) Bentuk tubuh oval, dengan cangkang berupa lempengan berjumlah delapan buah, terletak di sisi dorsal. Kelas Pelecypoda dikenal juga atau disebut Bivalvia, karena memiliki dua buahcangkang yang setangkup dengan berbagai bentuk dan ukuran (Sugiri,  2006).
Hewan anggota kelas Gastropoda  berjalan dengan perutnya kepala jelas terlihat, mempunyai satu atau dua  tentakel.  Memiliki cangkang yang tersusun atas zat kapur yang berfungsi melindungi tubuhnya contohnya pada Burungo (Telescopium telescopium).  Bentuk cangkang umumnya  seperti kerucut dari tabung yang melingkar seperti konde (gelung, whorl). Puncak kerucut merupakan bagian yang tertua disebut apex.  Sumbu kerucut disebut columella,  gelung terbesar disebut body whorl dan gelung kecil-kecil di atasnya disebut spire diantara bibir dalam dan gelung terbesar terdapat umbilicus, yaitu ujung  columella yang berupa celah sempit sampai lebar dan dalam.  Pada hewan ini juga terdapat  Aperture yaitu bukaan cangkang , tempat tersembunyinya kepala dan kaki.  Cangkang gastropoda terdiri atas 4 lapisan.  Lapisan paling luar disebut periostrakum  yang berfungsi untuk melindungi lapisan bawahnya  terdiri dari kalsium karbonat terhadap erosi (Aslan dkk.,  2010).
Tubuh mollusca terdiri dari tiga bagian utama Kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak merayap atau menggali.Pada beberapa molluska kakinya ada yang termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak. Massa viseral merupakan kumpulansebagaian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga mantel yang berisi cairan. Cairan tersebut merupakan lubang insang, lubang ekskresi, dan anus. Selain itu, mantel dapat mensekresikan bahan penyusun cangkang pada mollusca bercangkang.
Sistem saraf mollusca terdiri dari cincin saraf yang nengelilingi esofagus dengan serabut saraf yang melebar. Sistem pencernaan mollusca lengkap terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus. Ada pula yang memiliki rahang dan lidah pada mollusca tertentu.Lidah bergigi yang melengkung kebelakang disebut radula. Radula berfungsi untuk melumat makanan.Mollusca yang hidup di air bernapas dengan insang. Sedangkan yang hidup di darat tidak memiliki insang. Pertukaran udara mollusca dilakukan di rongga mantel berpembuluh darah yang berfungsi sebagai paru-paru. Organ ekskresinya berupa seoasang nefridia yang berperan sebagai ginjal.
Hewan Bivalvia seperti  kalandue (  Polymesoda sp. ), Kerang, tiram, simping termasuk dalam kelas ini. Hewan ini mempunyai dua buah cangkang yang melindungi tubuh (cangkang setangkup). Pelecypoda simetri billateral, tapi tidak dapat bergerak dengan cepat. Hewan ini bergerak dengan menjulur kan kaki otot yang besar melelui celah antara dua cangkang. Semua anggota kelas ini memperoleh makanan dengan menyaring makanan dari air yang masuk kedalam rongga mantel.
Kelas Cephalopoda Yang termasuk kelas ini misalnya gurita, cumi-cumi, dan nautilus. Hewan ini mempunyai kepala yang besar dan bermata sangat tajam. Pada kepala terdapat tangan-tangan (delapan pada gurita dan sepuluh pada cumi-cumi) yang berguna untuk pergerakan dan mencari mangsa. Mata cephalophoda dapat melihat dan berfungsi seperti vertebrata. Hanya Nautilus lah yang bercangkang. Cangkang cumi-cumi kecil berupa lempengan yang melekat pada mantel sedangkan gurita tidak bercangkang.

i
Gambar 13. Anatomi kelas Chepalopoda
2.3.   Habitat dan Penyebaran
Mollusca  umumnya hidup bebas, beberapa melekat pada karang, cangkang ataupun kayu dan ada beberapa jenis juga yang membenamkan diri dalam lumpur ataupun di dasar perairan lainnya, seperti Cumi-cumi (Loligo sp.) yang berenang bebas di lautan (Wahyuningsi, 2002).
Hewan kelas Gastropoda beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang ekstern di daerah pasang surut.  Sebagian besar hidup di laut dan hanya sedikit yang hidup di darat (Romimohtarto dan Juwana, 2001).
Filum Molusca kebanyakan ditemukan di laut dangkal dan beberapa ditemukan  pada  kedalaman  sampai  7000 meter,  beberapa lagi di air payau, air tawar dan di darat.  Penyebarannya banyak terdapatdi perairan, darat dan tempat-tempat yang dangkal dan terdapat 100.000 spesies yang hidup (Romimohtartoe dan Juwana,  2005).

2.4.   Reproduksi dan Daur Hidup
Molusca bereproduksi secara seksual dan masing-masing organ seksual saling terpisah pada individu lain.Fertilisasi dilakukan secara internal dan eksternal untuk menghasilkan telur.Telur berkembang menjadi larva dan berkembang lagi menjadi individu dewasa.
Reproduksi cephalopoda umumnya  dioecious, gonad terletak di ujung posterior dan selalu terjadi perkawinan, sperma yang dihasilkan oleh testis di alirkan ke seminal viccle, dikumpulkan  dan dibungkus dalam semacam kapsul yang disebut spermathopora. Kemudian spermathopora disimpan dalam kantung penyimpanan yang besar , yaitu kantung needham yang mempunyai bukaan dirongga mantel sebelah kiri. Telur dibungkus dengan albumin, kemudiaan dilapisi zat semacam agar yang mengeras apabila terkena air laut. Ocviduct bermuara  di rongga mantel. Salah satu tangan coleoid bermodifikasi untuk memindahkan spermathopora dari kantung needham ke dinding rongga mantel betina dekat oviduct  (Aslan dkk., 2010).
Reproduksi  pelecypoda umumnya dioecious, mempunyai sepasang gonad yang terletak berdampingan dengan usus , kopulasi tidak ada.  Beberapa jenis pelecypoda bersifat hermafrodit, menghasilkan telur dan sperma pada bagian dalam gonad yang sama dan mempunyai  gonoduct yang sama (Aslan dkk., 2010).

2.5.   Makanan dan Kebiasaan Makan
         Makanan dan kebiasaan makan pada gastropoda beragam yaitu ada bersifat herbivora, karnivora, ciliary feeder, deposit feeder, parasit maupun scavenger.  Pada kebanyakan gastropod, radula merupakan alat untuk makan yang tingkat  perkembangannya  sudah tinggi, meskipun ada beberapa jenis yang tidak mempunyainya.  Jumlah gigi pada radula 16 sampai 750.000 buah, tergantung pada jenisnya (Aslan dkk., 2010).
Molusca memiliki alat pencernaan sempurna mulai dari mulut yang mempunyai radula (lidah parut) sampai dengan anus terbuka di daerah rongga mantel. Di samping itu juga terdapat kelenjar pencernaan yang sudah berkembang baik. Sistem pencernaan pada Gastropoda dimulai dari mulut yang dilengkapi dengan rahang dari zat tanduk. Di dalam mulut terdapat lidah parut atau radula dengan gigi-gigi kecil dari kitin. Selanjutnya terdapat kerongkongan, kemudian lambung yang bulat, usus halus dan berakhir di anus. Gastropoda umumnya pemakan tumbuh-tumbuhan atau disebut hewan herbivora. Sistem pencernaan makanan pada cumi-cumi dan gurita terdiri atas mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus buntu, usus dan anus. Pada sistem pencernaan dilengkapi dengan kelenjar pencernaan yaitu kelenjar ludah, hati dan pankreas. Makanan cumi-cumi berupa ikan, udang dan Mollusca lainnya. Sistem pencernaan pada Kalandue (Polymesoda sp.)  dimulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus dan akhirnya bermuara pada anus. Anus ini terdapat di saluran yang sama dengan saluran untuk keluarnya air. Sedangkan makanan golongan hewan kerang ini adalah hewan-hewan kecil yang terdapat dalam perairan berupa protozoa diatom. Makanan ini dicerna di lambung dengan bantuan getah pencernaan dan hati. Sisa-sisa makanan dikeluarkan melalui anus.
       Semua Cephalopoda adalah karnivora,mempunyai penglihatan yang tajam untuk mencari mangsa, dan menggunakan tangan atau tentakelnya untuk menangkap mangsa.  Octopus menunggu mangsa di tempat persembunyiannya atau berburu mangsa di malam hari.  Makananya berupa siput, ikan dan terutama kepiting  yang ditangkap dengan tangan-tangannya kemudian dilumpuhkan memakai racun dari kelenjar ludahnya.  Loligo sp. Memangsa ikan dan udang pelagis dengan cara berenang cepat ke kawasan ikan mackerel muda, dan menangkap seekor ikan dengan tentakelnya. Kebanyakan kelas Pelecypoda adalah filter feeder dan memakan plankton, terutama Phytoplankton dan butir-butir lain.  Pada sub kelas septibranchia, dimana insang menghilang, hidup secara karnivora atau scavenger.  Sebagai ciliary feeder, radula tidak diperlukan, jadi golongan ini tidak memiliki radula.  Dari mulut makanan dialirkan ke esopagus, ke perut dan usus.  Akhirnya makanan yang tidak di cerna dibuang melalui anus yang bermuara pada lubang air keluar.  Semua Cephalopoda carnivora, mempunyai radula, tetapi yang penting adalah rahang berbentuk paru yang kuat, berguna untuk mengunyak dan menggigit mangsa.  Mangsa terdiri atas ikan dan berbagai avertebrata, tergantung besarnya masing-masing jenis.  Loligo mundur dengan cepat pada kawasan ikan tuna muda, menangkap seekor ikan dengan cepat, menggigit sepotong daging membentuk segitiga pada bagian leher (merusak benang saraf).  Uniknya gigitan itu selalu pada tempat yang sama.  Octopus menunggu mangsa di dekat sarangnya (lubang atau cela batu).  Makanan Octopus dan Loligo adalah siput, kepiting atau ikan yang lewat, ditarik dan ditangkap dan di bawa kesarangnya (Suwignyo, 2005).

2.6.   Nilai Ekonomis
Umumnya mollusca menguntungkan bagi manusia, namun ada pula yang merugikan.Peran mollusca yang menguntungkan adalah sebagai berikut :
-Sumber makanan berprotein tinggi, misalnya tiram batu (Aemaea sp.), kerang (Anadara sp.), kerang hijau (Mytilus viridis), Tridacna sp., sotong (Sepia sp.)
cumi-cumi (Loligo sp.), remis (Corbicula javanica), dan bekicot (Achatina fulica).
Perhiasan, misalnya tiram mutiara (Pinctada margaritifera).
Hiasan dan kancing, misalnya dari cangkang tiram batu, Nautilus, dan tiram mutiara. Bahan baku teraso, misalnya cangkang Tridacna sp.
         Hewan-hewan dalam Phylum Mollusca seperti cumi-cumi, gurita, burungo, dan kalandue memiliki  rasa yang enak, dan memiliki kandungan protein yang tinggi. Selain sebagai bahan makanan yang bergizi, cangkok hewan Mollusca bisa juga dimanfaatkan untuk membuat hiasan dinding, perhiasan wanita, atau dibuat kancing. Ada pula yang suka mengumpulkan berbagai macam cangkang Mollusca untuk koleksi atau perhiasan. Bahkan ada cangkang Mollusca yang digunakan untuk bahan mainan, seperti kuwuk. Sejak abad ke-17 mutiara merupakan barang perhiasan mewah yang diburu kaum jutawan dengan harga yang cukup mahal. Mutiara dihasilkan dari tiram mutiara seperti Pinctada margaritifera dan Pinctada mertensi dari kelas Pelecypoda (Bivalvia). Mutiara ini ada yang dihasilkan secara alami, dan adapula yang dibudidayakan. Saat ini banyak orang yang membudidayakan tiram untuk menghasilkan mutiara. Caranya, benda asing (kerikil, pasir atau arang) dimasukkan diantara mantel dan cangkok tiram. Ketika benda asing itu ada di tubuh tiram, tiram berusaha mengeluarkan dengan cara membungkusnya dengan lendir. Lendir ini akhirnya akan mengeras segingga terbentuklah mutiara
      Mollusca mempunyai arti ekonomi yang penting bagi manusia, baik sebagai sumber makanan maupun sebagai sumber bahan industri yaitu pada cangkangnya.  Daging pada hewan Mollusca merupakan protein hewani, sedangkan secara alami pada tiram mutiara dapat menghasilkan mutiara yang bernilai tinggi sebagai perhiasan (Radiopoetra, 2001).
      Pada umumnya Phylum Mollusca memiliki peranan yang sangat menguntungkan  bagi manusia  yaitu sebagai sumber  makanan dan protein hewani, misalnya pada berbagai jenis kerang, tiram dan cumi-cumi yang dapat dikonsumsi.  Selain itu juga sebagai penghasil mutiara yang dihasilkan oleh sejenis kerang yaitu tiram mutiara.  Mollusca juga dapat dijadikan sebagai industri kerajinan yaitu  pada cangkang digunakan sebagai perhiasan, asesoris dan bahan industri lainnya (Wekayanti, 2006).
       Phylum molusca  menguntungkan karena digunakan sebagai sumber makanan yang mengandung protein hewani yang cukup tinggi, selain itu juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi karena mempunyai harga yang tinggi contohnya cumi-cumi, gurita, kalandue, dan burungo selain itu cangkang juga dapat dijadikan sebagai bahan industri dan hiasan karena memiliki warna yang indah. Terutama jenis tiram yang menghasilkan mutiara yang merupakan komoditas ekspor utama (Saktiono, 2005).
       Berbagai spesies gurita merupakan makanan bagi penduduk sejumlah negara di dunia. Lengan dan berbagai bagian tubuh gurita bisa menjadi berbagai macam variasi makanan.Gurita merupakan makanan laut bagi penduduk di negara-negara Mediterania, Meksiko, dan bahan utama berbagai makanan Jepang, seperti sushi, tempura, takoyaki dan akashiyaki.

























III.   METODE  PRAKTIKUM
3.1.   Waktu dan Tempat
          Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum,at, tanggal 18 November 2011 pada pukul 14.00-15.00. WITA, bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo, Kendari.
3.2.   Alat dan Bahan
         Alat dan bahan yang digunakan  pada  praktikum filum Molusca beserta kegunaan dapat dilihat pada table 3 berikut :
Tabel  3. Alat dan Bahan serta Kegunaannya.
No.            Alat dan Bahan                                              Kegunaan  
1.           Alat   :
              -  Baki (Dissecting-pan)                               Wadah menyimpan objek
              -  Pisau bedah (Scalpel)                               Alat membedah  objek
              -  Pinset (forceps)                                         Alat mengambil bahan
2.           Bahan  :
              -  Burungo (Telescopium telescopium)          Obyek yang diamati
              -  Kalandue ( Polymesoda sp.)                       Objek  yang diamati
              -  Cumi-cumi (Loligo sp.)                               Objek yang diamati
              -  Gurita (Octopus sp.)                                   Objek yang diamati
              -  Alkohol 70 %                                             Bahan pengawet
 

3.3.   Prosedur Kerja
         Prosedur kerja pada praktikum kali ini adalah sebagi berikut :
1.        Melakukan pengamatan pada oeganisme yang telah di ambil dari perairan.
2.        Meletakkan organism pada baki kemudian menidentifikasi bagian-bagian organism tersebut
3.        Menggambarkan bentuk secara morfologi dan anatomi bagian-bagian    organismo yang telah di identefikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.









IV.   HASIL  DAN  PEMBAHASAN
4.1.   Hasil Pengamatan
         Hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
-     Struktur morfologi  Burungo (Telescopium telescopium)
Keterangan  :
1.  Mulut
2.  Cangkang
3.  Garis pertumbuhan







Gambar 14.  Morfologi Burungo (Telescopium telescopium)
-     Struktur morfologi  Kalandue ( Polymesoda sp.)
                                                                                    Keterangan  :
1.      Dorsal
2.      Cangkang
3.      Posterior
4.      Garis Pertumbuhan
5.      Ligamen
6.      Umbo







Gambar 15. Morfologi Kalandue ( Polymesoda sp.)
-     Struktur anatomi  Kalandue ( Polymesoda sp.)
Keterangan   :
1.   Mulut
2.   Otot adductor posterior
3.   Otot adductor anterior
4.   Pulp
5.   Gigi














Gambar 16.  Anatomi  Kalandue ( Polymesoda sp.)
-    Struktur morfologi  Cumi-cumi (Loligo sp.) 
Keterangan  :
1.   Tangan                                   
2.   Mata                                       
3.   Kepala                                    
4.   Mantel                                                                        
5.   Tentacular club                      
6.   Rostrum                                  
7.   Tentacular arm                                                                         







Gambar 17.  Morfologi  Cumi-cumi (Loligo sp.)
-    Struktur anatomi Cumi-cumi (Loligo sp.)
Keterangan  :
1.   Tangan
2.   Kepala
3.   Sifon
4.   Mantel
5.    Sirip
6.    Pigment spot
7.    Tentacular club
8.    Rostrum
9.    Tentacular arm





Gambar 18. Anatomi Cumi-cumi (Loligo sp.)
-    Struktur morfologi Gurita (Octopus sp.)

Keterangan  :
1.  Mata
2.  Jumbai
3.  Bintik mata
4.  Funnel
5.  Tangan ke-1
6.  Tangan ke-2
7.  Tangan ke-3
8.  Alat pengisap (Sucker)
9.  Tangan ke-4






Gambar 19. Morfologi  Gurita (Octopus sp.)
4.2. Pembahasan
        Pengamatan pada  burungo (Telescopium telescopium) cangkangnya umumnya  seperti kerucut dari tabung yang melingkar seperti konde (gelung, whorl). Puncak kerucut merupakan bagian yang tertua disebut apex. Mempunyai satu atau dua buah tentakel. Cangkangnya merupakan rangka luar yang disebut Eksoskeleton yang digunakan untuk melindungi kaki dan kepalanya.  Pada bagian yang melengkung yang terletak dekat lubang  besarnya disebut operculum. Pada hewan ini juga terdapat aperture yaitu bukaan cangkang , tempat tersembunyinya kepala dan kaki. Bagian kepala secara langsung berhubungan dengan kaki dan perutnya, yang digunakan untuk bergerak ataupun berjalan.   Cangkang burungo (Telescopium telescopium ) terdiri atas 4 lapisan.  Lapisan paling luar disebut periostrakum  yang berfungsi untuk melindungi lapisan bawahnya  terdiri dari kalsium karbonat terhadap erosi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Aslan dkk., (2010) yang menyatakan bahwa Hewan anggota kelas Gastropoda  berjalan dengan perutnya kepala jelas terlihat, mempunyai satu atau dua  tentakel.  Memiliki cangkang yang tersusun atas zat kapur yang berfungsi melindungi tubuhnya contohnya pada Burungo (Telescopium telescopium).  Bentuk cangkang umumnya  seperti kerucut dari tabung yang melingkar seperti konde (gelung, whorl). Puncak kerucut merupakan bagian yang tertua disebut apexPada hewan ini juga terdapat  Aperture yaitu bukaan cangkang , tempat tersembunyinya kepala dan kaki.  Cangkang gastropoda terdiri atas 4 lapisan.  Lapisan paling luar disebut periostrakum  yang berfungsi untuk melindungi lapisan bawahnya  terdiri dari kalsium karbonat terhadap erosi.
Pengamatan pada kalandue ( Polymesoda sp.) dimana pada hewan ini mempunyai  dua cangkang yang menyatu yang dapat membuka dan menutup.  Pada hewan ini di bagian belakang tubuhnya yerdapat suatu ujung yang membentuk sudut tumpul yang disebut umbo   berguna sebagai  tempat pelekatan  kedua cangkang yang membentuk semacam engsel dengan zat  perekat berupa jaringan ikat  padat (ligamen) dan terdapat garis pertumbuhan.  Jika dilihat secara anatomi pada bagian dalam hewan ini terdapat mantel dan pulp juga pada bagian sisi kiri dan kanan terdapat otot adductor posterior dan aotot adductor anterior. Cangkangnya terbuat dari zat kapur (CaCOз) dan terdiri atas 3 lapisan yang berturut-turut dari luar ke dalam yaitu lapisan periostrakum berfungsi melindungi jaringan bagian dalam,  lapisan perismatik terdiri atas kristal kalsium karbonat (CaCOз) berbentuk prisma dan lapisan nakreas merupakan lapisan terdalam yang terbentuk dari getah-getah yang dihasilkan oleh kelenjar pada sel-sel mantel. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh GuruNgeBlog (2010) kalandue              (Polymesoda sp.)  Cangkangnya terdiri atas tiga lapisan, yang berturut-turut dari luar ke dalam yaitu lapisan periostrakum berfungsi melindungi jaringan bagian dalam,  lapisan perismatik terdiri atas kristal kalsium karbonat (CaCOз) berbentuk prisma dan lapisan nakreas merupakan lapisan terdalam yang terbentuk dari getah-getah yang dihasilkan oleh kelenjar pada sel-sel mantel.  Cangkangnya yang menggelembung atau umbo  berguna sebagai  tempat pelekatan  kedua cangkang yang membentuk semacam engsel dengan zat  perekat berupa jaringan ikat  padat (ligamen).  Kedua cangkangnya dapat menutup kuat karena memiliki otot aduktor sebagai penghubung kedua cangkang. Pada hewan ini terdapat juga garis pertumbuhan dimana pertumbuhan hewan ini dapat dilihat dari garis-garis melingkar di bagian luar cangkang tersebut.
Pengamatan pada kelas cephalopoda yaitu pada cumi-cumi (Loligo sp.) umumnya tidak mempunyai cangkang luar, hewan ini juga  mempunyai bentuk morfologi tubuh yang lunak juga mempunyai 8-10 buah tentakel  dimana dua buah tentakel yang panjang digunakan untuk dapat menangkap mangsanya dengan menngunakan sucker  yang ada pada ujung tentakelnya.  Pada bagian sekitar lehernya juga terdapat suatu organ yang menyerupai  pipa yang disebut sifon yang berfungsi untuk mengeluarkan zat sisa metabolisme, menyemburkan tinta hitamnya  untuk menghadapi musuhnya.
Pada gurita (Octopus sp.) memiliki 8 buah tentakel, pada bagian kepala terdapat dua pasang mata dan sepasang bintik mata yang digunakan untuk melihat dan mencari makanannya.  Pada hewan ini juga terdapat jumbai, funnel dan alat pengisap. Alat pengisap ini berfungsi untuk  menangkap mangsanya. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Anonim (2011) bahwa Kelas Cephalopoda  artinya hewan yang kepalanya berkaki seperti pada Gurita (Octopus sp.) dan Cumi-cumi (Loligo sp.). Tubuhnya terdiri atas kepala, badan, dan leher.  Kepalanya dilengkapi dengan 1 pasang mata dan 8-10 buah tentakel yang mengelilingi mulutnya. Tentakel berfungsi untuk menangkap mangsanya.

















V.   PENUTUP
5.1.   Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan diatas maka dapat diberi kesimpulan sebagai berikut :
1.        Mollusca (dalam bahasa latin, molluscus = lunak) merupakan hewan yang bertubuh lunak. Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang. Hewan ini tergolong triploblastik selomata. 
2.        Telescopium telescopium memiliki morfologi yang terdiri dari apex berfungsi sebagai pusat pertumbuhan, ulir sebagai garis tumbuh, cangkang untuk melindungi organ dalam tubuh dari luar dan aperture.
3.        Polymesoda sp. memiliki morfologi yang terdiri dari umbo, cangkang untuk melindungi organ dalam, garis pertumbuhan dan sifon sebagai alat pengisap.
4.        Loligo sp. memiliki morfologi baik secara dorsal maupun ventral terdiri dari lengan, lengan tentakel yang digunakan untukl menangkap mangsanya, trunk sebagai badan, fin untuk berenang/bergerak, tentacular club sebagai alat penangkap dan lata indra, rostrum, mata, kepala, mantel dan sifon untuk mengisap makanannya.
5.        Octopus sp. tampak morfologinya terdiri dari tangan ke-1, tangan ke-2, tangan ke-3, tangan ke-4, hectocotylus, alat pengisap, bintik mata, jumbai, mata, funnel, insang untuk bernafas dan tubuh (mantel).
6.        Filum Mollusca dibagi 8 kelas, yaitu Chaetodermomorpha, Neomeniomorpha, Monoplacophora, Polyplacophora, Gastropoda, Pelecypoda/Bivalvia, Scaphopoda dan Cephalopoda. Mollusca yang tidak memiliki cangkok, seperti cumi-cumi, sotong, gurita atau siput telanjang. Mollusca memiliki struktur berotot yang disebut kaki yang bentuk dan fungsinya berbeda untuk setiap kelasnya. Cangkok kerang ini terdiri dari dua belahan, sedangkan cangkok siput berbentuk seperti kerucut yang melingkar. Perbedaan lainnya, kaki siput tipis dan rata. Fungsinya adalah untuk berjalan dengan cara kontraksi otot. Lain halnya dengan kerang yang mempunyai kaki seperti mata kapak yang dipergunakan untuk berjalan di lumpur atau pasir. Sementara itu cumi-cumi dan sotong tidak punya cangkok, kakinya terletak di bagian kepala yang berfungsi untuk menangkap mangsa.

5.2.   Saran
         Saran saya sebagai praktikan agar pada praktikum selanjutnya selai alat-alat laboratorium yang dilengkapi juga keaktifan praktikan dalam proses praktikum juga harus diperhatikan sehungga dapat berjalan baik.




Daftar Pustaka

Aslan, M, L., Wa Iba., Kamri, S., Irawati., Subhan., Purnama, F, M., M., Jaya, I, M., Rahmansyah., Saputra, R., Tiar, S., Mulyani, T., Kasendri, R, A., Zhuhuriani, Riana, A. 2011. Penuntun Praktikum Avertebrata Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Haluoleo. Kendari.
Radiopoetra, 2001. Zoologi. Erlangga. Jakarta.
Romimohtartoe,  dan Juwana., 2001. Biologi Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Saktiono, 2005. Biologi I. PT. Intan Pariwara.Jakarta.
Sugiri, N., 2006.  Zoologi Avertebrata II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat-IPB. Bogor.
Suwignyo, S. 2005  Avertebrata Air. Lembaga Sumber Daya Informasi IPB, Bogor.
Wahyuningsi, S.,  2002.  Studi Habitat dan Kelimpahan Telescopium-telescopium pada Daerah Mangrove Di Pantai Utara Teluk Dalam Lasolo Kecamatan Lasolo Kabupaten kendari.  Skripsi Program Studi Manejemen Sumber Daya Perairan.  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.  Universitas Haluoleo.  Kendari.
Wekayanti, 2006.  Studi Kebiasaan Makan Gurita (Octopus valgaris) Di Perairan Kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara.  Skripsi Program Studi Budidaya Perairan.  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.  Universitas Haluoleo.  Kendari.





















LAPORAN AVERTEBRATA AIR
PRAKTIKUM III
(FILUM MOLUSCA)


UNHALU
 




 

OLEH:

NAMA                                                : RONI NERLIANO
STAMBUK                                        : I1A2 10 061
KELOMPOK                         : II (DUA)
PROGRAM STUDI                          : BUDIDAYA PERAIRAN
ASISTEN PEMBIMBING               : MUH. FAJAR PURNAMA           

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar